
JAKARTA, iNews.id - Pemerintah menyatakan, kelemahan Indonesia berada pada lebarnya defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD). Padahal beberapa indikator ekonomi lain mendapatkan hasil yang baik sehingga fundamental ekonomi Indonesia terbilang cukup kuat.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, lemahnya CAD yang pada triwulan II-218 mencapai 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), yaitu 8 miliar dolar AS ini didasarkan oleh beberapa faktor. Salah satunya tingkat ekspor yang tumbuh tidak secepat impor.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor Januari-Juli 2018 sebesar 107,32 miliar dolar AS atau meningkat 24,48 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara, ekspor meningkat 11,35 persen yaitu sebesar 104,24 miliar dolar AS.
"Jadi pas ekonomi perlahan pulih impor lebih cepat dari ekspor. 90 persen bahan baku dan barang modal sedangkan 10 persen barang konsumsi," ujarnya di depan Badan Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat (DPR RI), Jakarta, Rabu (5/9/2018).
Sementara itu, valuta asing hasil ekspor banyak yang tidak masuk ke dalam bank devisa Indonesia. Menurut dia, hingga kini baru 85 persen hasil ekspor yang masuk ke dalam negeri namun valuta tersebut banyak yang tidak ditukar ke rupiah.
"Dari 85 persen yang masuk hanya 6 bulan yang sama ditukarkan ke rupiah paling-paling sekitar 15 persen," kata dia.
Kedua hal ini justru membuat Indonesia kesulitan menghadapi perkasanya dolar AS akibat melonjak permintaannya. Saat ini, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di pasar spot sesi siang masih cukup stabil. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah menguat tipis 2 poin atau 0,01 persen ke 14.933 per dolar AS.
"Dari hari ke hari dalam gejolak sekarang kita menghadapi permintaan terhadap dolar AS naik kemudian ketersediaan dolar AS tidak bisa mengejar dengan baik," ucapnya.
Oleh karenanya meski indikator-indikator lainnya membaik tetapi CAD yang melebar membuat nilai tukar rupiah terus terpuruk. Belum lagi tekanan dari negara-negara global lainnya yang relatif tinggi.
"Seandainya ekspor cukup baik tumbuhnya dengan impor dan CAD itu tidak memburuk maka tekanan kepada kita sama saja dengan negara sekitar. Tapi karena lambat ekspornya maka tekan lebih berart dibanding Malaysia dan Thailand tapi relatif sama dengan Filipina dan India," tuturnya.
Editor : Ranto Rajagukguk
https://www.inews.id/finance/read/237589/menko-darmin-sebut-kelemahan-ri-karena-defisit-transaksi-berjalan
No comments:
Post a Comment