
Sementara kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di Rp14.824 per dolar AS atau menguat dari kemarin di Rp14.839 per dolar AS.
Di kawasan Asia, sejalan dengan penguatan rupiah, mayoritas mata uang juga berhasil menguat dari dolar AS. Won Korea Selatan menguat 0,43 persen, dolar Hong Kong 0,36 persen, rupee India 0,19 persen, ringgit Malaysia 0,18 persen, dolar Singapura 0,09 persen, peso Filipina 0,04 persen, dan renminbi China 0,03 persen.
Berbanding terbalik, mayoritas mata uang utama negara maju justru berada di zona merah. Poundsterling Inggris melemah 0,61 persen, rubel Rusia minus 0,27 persen, dolar Australia minus 0,08 persen, dolar Kanada minus 0,05 persen, dan euro Eropa minus 0,01 persen.
Bahkan, ia memperkirakan dolar AS akan kembali melemah pada pekan depan, sehingga potensi penguatan bagi rupiah terbuka. </span></span>Menurutnya, dolar AS melemah karena sentimen perang dagang AS-China sudah memudar sejak beberapa hari terakhir.
Sentimen rencana kenaikan tingkat suku bunga acuan bank sentral AS, The Federal Reserve pun dilihat tak mampu memberi tekanan ke rupiah. "Soalnya rencana kenaikan bunga acuan The Fed, sudah di-price-in (dihitung) sejak lama," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Jumat (21/9)
"Bank-bank besar di dunia juga memproyeksikan dolar AS berpotensi melemah, meskipun The Fed nanti menaikkan bunga acuan," katanya.
Ia memproyeksi rupiah akan bergerak di rentang Rp14.700-14.880 per dolar AS pada pekan depan.
No comments:
Post a Comment