
Hal ini dikatakannya terkait kematian DBJ (14) saat menjalani MOS di SMA Semi Militer Plus Taruna Indonesia Palembang, Sabtu (13/7). MOS yang digelar sejak Minggu (7/7) hingga Sabtu (13/7) itu diikuti oleh 105 orang calon taruna-taruni tahun ajaran 2019/2020.
Tarmizi menungkapkan DBJ dalam kondisi sehat tanpa gejala sakit saat memulai MOS ini bersama calon taruna lain. Oleh karena itu, pihaknya mengizinkan DBJ untuk mengikuti rangkaian kegiatan MOS sepekan penuh.
"Kegiatannya ada LTBB (baris-berbaris) dan lain-lain. Malam itu calon taruna disuruh berjalan 4 kilometer. Saat itu anak itu [DBJ] sehat-sehat saja. Sesampai di sini anak itu kejang. Kita coba bawa ke rumah sakit, meninggal. Untuk visum diserahkan ke polisi," ujar dia.
Adegan dimulai saat korban bersama teman-teman berjalan kaki dari pesantren di kawasan Talang Jambe ke SMA Taruna. Berdasarkan pantauan, agegan korban terjatuh pun diperagakan.
Kasat Reskrim Polresta Palembang Komisaris Yon Edi Winara mengatakan prarekonstruksi dilakukan untuk TKP memperjelas kronologis kegiatan long march yang dilakukan dalam MOS SMA Taruna Indonesia tersebut. Pihaknya pun masih menungu hasil otopsi resmi dari RS Bhayangkara Palembang.
"Beberapa saksi di lapangan pun sudah diperiksa seperti siswa taruna, teman korban, pembina korban," ujar Yon.Pihaknya kini sudah menetapkan Obby Frisman Arkataku (24), pria yang berstatus sebagai pembina di SMA tersebut, sebagai tersangka penganiayaan. Motifnya, kesal karena korban kerap bermalas-malasan dan memaki panitia.
[Gambas:Video CNN] (idz/arh)
https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190715175347-12-412318/kepala-sekolah-sma-taruna-akui-mos-diawasi-tni-dan-senior/
No comments:
Post a Comment